Banyak Penumpang Kapal Laut Tidur Melantai, Menhub dan Pelni Mulai Cari Solusi

BALIKPAPAN – Dalam pengecekan kondisi kapal beserta penumpang jelang mudik Lebaran, khususnya KM Labobar di pelabuhan Semayang, Sabtu (17/6/2017), Rombongan Menhub Budi Karya Samadi didampingi oleh Wakil Ketua Komisi V DPR-RI Michael Wattimena, Dirut PT Pelni Elvin Guntoro, Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi dan berbagai pejabat lainnya, menyempatkan untuk mengecek langsung kondisi penumpang yang tempat tidur penumpang selama dalam perjalanan di kapal laut.

Titik Siamah misalnya, bersama suami dan kedua anaknya remajanya, harus merasakan beratnya perjuangan mudik di kapal laut.

Dua hari dua malam lamanya, mereka harus tidur beralaskan karton coklat menyerupai kantong semen di lorong dekat toilet penumpang.

Bau pesing dan lalu lalang penumpang, terkadang diinjak saat tidur oleh penumpang lain tak lagi mereka gubris. Yang ada di benak mereka hanya selamat sampai tujuan di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya dan bisa berlebaran di kampung halaman mereka di Kediri, Jawa Timur.

Alas tidur itu dia beli seharga Rp 10 ribu saat KM Labobar masih bersandar Pelabuhan Pantoloan, Palu, Sulawesi Tengah.

Biasanya penjual alas tersebut segera masuk ke kapal dan menawarkan pada penumpang yang tidak mendapatkan tempat tidur di kapal.

Tidur di lantai dan dek kapal mudik Lebaran, bukanlah hal yang baru baginya. Titik menambahkan, sistem yang biasa berlaku di kapal adalah siapa yang cepat dialah yang dapat tempat tidur di ranjang.

“Mulai dulu sudah sistemnya dulu-duluan, siapa yang cepat dia yang dapat ranjang,” kata Titik yang sudah lebih dari 10 kali mudik ke Surabaya menggunakan kapal laut itu.

Tiket kapal sendiri ia tebus seharga Rp 460 ribu, lima hari sebelum keberangkatannya. Ia memilih menggunakan kapal laut, lantaran selisih harga yang cukup jauh dengan tiket pesawat terbang.

Tititk tidak sendirian, di tiap lorong, dek kapal sampai jalanan depan tangga hingga tingkat lima kapal banyak ditemui penumpang dengan nasib serupa, tak jarang ada diantara mereka terdapat balita.

Di tempat terpisah, Menteri Budi menyebutkan total penumpang di KM Labobar sebanyak 4.500 penumpang. Dimana 60 persennya mendapatkan tempat tidur, sementara 40 persen tidak.

“Secara jumlah tidak berlebihan, tapi kami pikirkan apakah mereka tetap bisa di deck atau di tempat yang lebih layak,” katanya.

Apakah pihaknya akan segera mendorong 40 persen penumpang tadi mendapatkan tempat tidur khusus ? Budi mengatakan yang terpenting yaitu faktor keselamatan dan keamanan, baru setelah itu bisa ditingkatkan pelayanannnya.

“Nomor satu itu keselamatan dulu baru keamanan nanti kami minta Pelindo IV untuk menambah pagar,” tambah Budi.

Sementara itu, Direktur Utama PT Pelni Elfien Goentoro, dalam kesempatan sama mengatakan total mudik ke Surabaya dari Balikpapan tahun lalu diprediksi sekitar 13 ribu dari total 14 ribu total kapasitas sekarang.

“Tahun ini kan belum selesai, baru setengah jalan, prediksi kami menurun dua persen dari tahun lalu,” katanya.

Terkait persoalan tempat tidur bagi 40 persen penumpang tadi, pihaknya akan berusaha menyediakan tempat tidur yang tidak mengganggu lalu lintas jalan.

“Tempat tidur akan di tempat kosong, tempat yang tidak mengganggu, seperti pojok-pojok. Memang kondisi khusus di peak season, H-15 sampai H+15. Satu orang itu 1,12 meter persegi, masih layak kapal ini diisi” ujarnya.

Terkait peningkatan pelayanan Pelni selama musim mudik tahun ini, dirinya menyebut sebelum musim puncak mudik Lebaran, pihaknya sudah melakukan uji kelayakan terhadap kapal penumpang terlebih dahulu.

Yakni bekerja sama dengan Kementrian Perhubungan dengan menjaga standar keamanan penumpang selama perjalanan.

“Safety kita yaitu life jacket itu diatas 10 persen jumlah penumpang yang kita bawa, 5.450, jadi diatas itu, Kita juga ada sekoci, cek semua life craft, kita cek semua,” tandasnya. (*)

Sumber : kaltim.tribunnews.com