Jejak Laksamana Muslim di Kelenteng Sam Poo Kong Semarang

Semarang – Jejak warga keturunan Tionghoa hampir bisa ditemukan di seluruh belahan dunia. Fenomena tersebut adalah salah satu bukti bahwa mereka gemar melakukan penjelajahan lintas samudra dan benua sejak zaman dahulu.

Dan, Nusantara adalah salah satu wilayah yang turut pula disinggahi orang Tionghoa. Salah satu persinggahan yang terkenal adalah legenda kunjungan Laksamana Cheng Ho di Semarang, Jawa Tengah.

Kelenteng Sam Poo Kong yang terletak di kawasan Bukit Simongan menjadi saksi bisu penjelajahan Cheng Ho di Nusantara. Kelenteng tertua sekaligus yang terbesar di Semarang ini menjadi tempat berteduh dan tempat tinggal sementara Laksamana Cheng Ho atau Zheng He saat harus “terpaksa” merapat ke pelabuhan pada tahun 1416. Ketika itu, juru mudi kapalnya, Wang Jing Hong, sedang sakit keras.

“Menurut sejarahnya, juru mudi Cheng Ho sakit keras. Cheng Ho sempat merawat Wang Jing Hong sama awak kapalnya,” kata Bagus, salah satu pengelola Kelenteng Sam Poo Kong kepada Liputan6.com, Minggu, 30 September 2018.

Sebuah gua batu dijadikan tempat istirahat Laksamana Cheng Ho, dan di sana pula Wang Jing Hong diobati. Kondisi Wang Jing Hong bersangsur membaik setelah dirawat oleh beberapa awak kapal yang menetap bersama warga Simongan. Setelah Wang Jing Hong sembuh, Cheng Ho kembali berlayar dan melanjutkan misi perdamaian dan perdagangan, meski tanpa Wang Jing Hong.

Wang Jing Hong menetap di Simongan. Bersama warga setempat, dia bercocok tanam dan membangun rumah. Usaha sang juru mudi pun berbuah manis. Daerah tersebut berkembang dan menjadi makmur. Namun, tak serta merta Wang Jing Hong melupakan jasa Cheng Ho. Untuk menghormati dan mengenangnya, menurut Bagus, Wang Jing Hong pun mendirikan patung Cheng Ho di gua batu tersebut.

“Cheng Ho itu, walau dia seorang muslim, sebenarnya tidak meninggalkan kearifan lokalnya, China, di daerah itu. Jadi tetap dibangunkan kelenteng,” ucap Bagus.

Bukti kentalnya toleransi dan pembauran budaya juga tampak jelas di Kelenteng Tionghoa Sam Poo Kong. Menurut Bagus, semua orang bisa masuk ke Kelenteng Sam Poo Kong, apa pun agamanya.

“Di sini tidak harus yang beragama Konghucu aja yang sembahyang. Islam pun bisa masuk, Kristen, Katolik juga bisa masuk. Asalkan tetap bisa menjaga dan menghormati orang yang sedang sembahyang,” kata Bagus, sambil menemani berkeliling area kompleks Kelenteng Sam Poo Kong.

Kompleks Kelenteng Sam Poo Kong

Tak salah kalau Kelenteng Sam Po Kong disebut-sebut sebagai kelenteng terbesar di Semarang. Kompleks Kelenteng Sam Poo Kong terdiri dari sejumlah anjungan. “Yang pertama ada gerbang selatan, jadi ibarat masuk ke sebuah kerajaan. Kemudian, ada Kelenteng Sam Poo Kong, Kelenteng Dewa Bumi, Kelenteng Juru Mudi, dan Kelenteng Kiai Jangkar,” tutur Bagus.

Selain itu, Bagus menjelaskan, ada juga bangunan panggung yang masuk area wisata dan patung Laksama Cheng Ho. “Patung Cheng Ho yang ada di sini itu yang terbesar di Asia Tenggara. Tingginya mencapai 12 meter, terbuat dari full perunggu. (Patung ini) dikirim langsung dari China, hadiah khusus dari pemerintah China.”

“Wisatawan juga bisa melihat gua replika tempat Cheng Ho bersama awak kapalnya tinggal. Tapi sekarang tinggal replika, karena kondisi alam yang tidak memungkinkan, sudah tidak aman bagi wisatawan melihat-lihat,” ucap Bagus.

Tak ketinggalan, sebuah relief yang bercerita tentang kedatangan kapal Laksamana Cheng Ho ke pantai utara Semarang. “Relief ini dibuat langsung sama pematung seniman Bali. Dikerjakan khusus,” kata dia.

Gratis untuk Ibadah

Untuk bisa masuk ke kawasan Kelenteng Sam Poo Kong diberlakukan dua jenis tiket masuk. “Jadi di kelenteng ini ada dua loket masuk ya. Satu loket wisata, satu loket sembahyang atau terusan, kita menyebutnya tiket luar (wisata) dan tiket dalam (ibadah),” Bagus menjelaskan.

Tiket wisata dijual dengan harga Rp 10 ribu saat akhir pekan dan Rp 7.000 hari Senin-Jumat. Sementara itu, tiket terusan dihargai Rp 28 ribu.

“Tapi kalau untuk ibadah free alias gratis. Kalo dia sudah bawa perlengkapan ibadah sendiri, seperti hio, lilin, dan sebagainya, free (masuk). Lalu kalau yang mau ibadah tapi enggak bawa apa-apa, kita wajibkan untuk beli alat ibadah sembahyang dulu di sini, baru ditukar dengan free tiket di dalam.”

Menurut Bagus, sistem dua loket tiket ini diterapkan sekaligus untuk menjaga kekhusyukan orang yang tujuannya untuk beribadah. Per hari, rata-rata Kelenteng Sam Poo Kong dibanjiri 800 sampai 1.000 orang, baik untuk tujuan wisata ataupun beribadah.

“Kalau weekend bisa sampai 2.500 orang. Ramai kayak gini,” dia menambahkan.

Asti dan beberapa teman sepermainannya yang ditemui di Kelenteng Sam Poo Kong mengaku sudah beberapa kali datang. Baginya, kelenteng ini adalah wisata murah meriah dan cocok untuk semua umur dan kalangan.

“Murah meriah. Main-main saja, kumpul, sama teman-teman di sini,” kata ABG berhijab ini.

Menanggapi hal itu, Bagus juga mengakui wisatawan yang datang tidak terbatas agama ataupun suku tertentu. Kelenteng Sam Poo Kong sudah menjelma menjadi wisata rakyat yang menyenangkan sekaligus cocok untuk para milenial. “Yang penting saling menghormati, tidak terlalu berisik dan melakukan kegiatan positif, karena gimana pun ini adalah tempat ibadah,” ucap Bagus menutup pembicaraan kami siang itu.

Sumber : Liputan6.com