Lion Air dan Rusdi Kirana: dari Calo Tiket hingga Maskapai

Pesawat Lion Air JT-610 dipastikan jatuh di perairan dekat Tanjung, Karawang, Jawa Barat pada Senin (29/10/2018). Pesawat jenis boeing 737 ini terbang dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Pangkalpinang, Bangka Belitung pada pukul 06.20 WIB.

Pada pukul 06.33 WIB pesawat yang membawa penumpang 178 orang dewasa, 1 anak, 2 bayi infant, 2 kru, dan 6 awak kabin itu kehilangan kontak. Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) pada pukul 9.50 WIB memastikan bahwa pesawat itu jatuh di perairan dekat Tanjung, Karawang.

Jatuhnya pesawat tersebut tersebut menambah panjang daftar kecelakaan Lion Air sejak maskapai ini didirikan pada 1999. Betapa seringnya Lion Air mengabaikan kualitas layanan pernah diinvestigasi Tirto dalam laporan mendalam.

Lion Air adalah pelopor penerbangan murah di Indonesia. Niat awal pendiri maskapai ini sebenarnya bagus, yaitu agar penerbangan bisa dijangkau banyak orang. Tapi niat baik itu kadang-kadang tidak diikuti dengan pelayanan yang prima bagi para penumpangnya.

Inilah sepenggal riwayat Lion Air dan bagaimana Kirana bersaudara membangun maskapai berlogo singa ini.

Bermula dari Calo Tiket

Ada Wright bersaudara dari Amerika yang merancang agar pesawat buatannya bisa terbang pada awal abad ke-20. Di pengujung abad, Kirana bersaudara dari Cirebon yang membuat agar lebih banyak orang bisa naik pesawat, lewat penerbangan murah di Indonesia.

Kirana bersaudara, Kusnan dan Rusdi, bukan anak konglomerat. Keduanya memulai usaha dari bawah dan tak langsung punya pesawat di tahun-tahun pertama bisnis mereka.

Semasa kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Pancasila, Rusdi Kirana nyambi sebagai calo tiket di Bandara Soekarno-Hatta. “Pekerjaan sambilan inilah yang membuatnya tahu dunia penerbangan,” catat Gatra No. 52 X (13/11/2004).

Selulus Rusdi kuliah, bermodal uang keringat dari jadi calo, ditambah uang dari abangnya, Kusnan, dua bersaudara itu mendirikan sebuah biro perjalanan. Berhubung keduanya berzodiak Leo, maka biro perjalanan itu diberi nama “Lion Tour”.

Saat itu, sudah ada beberapa maskapai penerbangan selain Garuda Indonesia Airlines (kini jadi Garuda Indonesia). Pemerintah setidaknya memiliki Merpati Nusantara Airlines. Selain itu ada Bouraq Airlines, Sempati Air, dan Mandala Air sebagai maskapai penerbangan swasta yang beroperasi di Indonesia.

Sekitar 13 tahun Rusdi menjalankan biro perjalanannya. Meski terbilang pelaku dalam bisnis penerbangan, Rusdi dan abangnya terhitung belum apa-apa di masa Orde Baru.

Rusdi mengaku, suatu kali dirinya bertemu direktur maskapai penerbangan Vietnam. Satu pertanyaan penting yang diajukan Rusdi kepada direktur itu adalah: mau dibawa ke mana penerbangan nasional Vietnam? “Akan saya bawa menjadi penerbangan umum,” jawab sang direktur.

Jawaban itulah yang terus terngiang dalam benak Rusdi.

Agar Semua Orang Bisa Terbang

Rusdi muda tentu insyaf, penerbangan di Indonesia pada masa Orde Baru bersifat elitis, hanya orang-orang berduit yang bisa menjangkaunya. Rusdi pun bermimpi agar naik pesawat bukan lagi kemustahilan bagi orang Indonesia kebanyakan. Tentu saja, cekaknya modal yang dimiliki Rusdi juga sebuah kemustahilan.

Setelah Soeharto tumbang dari kursi kepresidenan, bisnis Rusdi dan Kusnan menyongsong era baru. “Saat itu, izin penerbangan belum dibuka,” ungkap Rusdi kepada Gatra.

Begitu izin terkabul pada 1999, Rusdi, yang sudah menyiapkan dana, mendaftarkan maskapainya. Pesawat pertama tidak beli baru atau dimiliki sendiri, tapi menyewa, yaitu sebuah pesawat buatan Rusia. Soal nama yang dipakai, Rusdi mengaku, “Saya pakai nama Lion Air.”

Tekad Rusdi Kirana soal penerbangan umum yang bisa menerbangkan siapa saja masih terngiang. Artinya, Kirana bersaudara harus rela mengadakan tiket dengan harga murah. “[…] mohon maaf, transportasi udara di Indonesia dulu itu penipuan,” tutur Rusdi.

Bagi Rusdi, harga tiket Jakarta-Medan sebelum 2004 yang mencapai Rp1,1 juta atau Jakarta-Manado yang mencapai Rp 2,1 juta adalah tipu-tipu. Di tangan Kirana bersaudara, tiket Jakarta-Medan pada 2004 bisa diperoleh mulai harga Rp300.000 dan Jakarta-Manado dengan harga mulai dari Rp400.000. Dengan harga tadi, Rusdi mengaku dirinya baik-baik saja.

Perusahaan milik Kirana mersaudara itu, seperti disebut dalam situs resmi Lion Air, “secara hukum didirikan pada tanggal 15 November 1999 dan mulai beroperasi pertama kali pada tanggal 30 Juni 2000.”

Kala itu, Lion Air melayani penerbangan rute Jakarta-Pontianak dengan armada dua unit pesawat tipe Boeing 737-200.

Dalam hitungan lima tahun, dua pesawat yang dioperasikan Lion Air itu beranak-pinak. Gatra menyebut, pada 2004 Lion Air telah mengoperasikan 23 pesawat dengan 130 kali penerbangan tiap harinya; baik di Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Vietnam.

Masih menurut situs resmi Lion Air, saat ini armada yang dioperasikan mencapai 112 pesawat yang terbagi dalam beberapa tipe seperti Boeing 747-400, Boeing 737-800, Boeing 737-900 ER, dan Airbus A330-300.

Ada Harga, Ada Rupa

Pada 2011, Lion Air membeli banyak pesawat dari Amerika yang sedang dilanda krisis ekonomi. Ini dianggap pertanda bahwa Lion Air makin membesar. Kirana bersaudara pun mengembangkan unit usaha mereka di bawah bendera Lion Air Group. Mereka menciptakan merek-merek lain dalam bisnis penerbangan: Wings Air, Batik Air, Lion Bizjet, Malindo Air (Malaysia), dan Thai Lion Air (Thailand).

Dengan mengatasnamakan diri sebagai PT Lion Mentari Airlines, Lion Air berkantor pusat di Lion Air Tower, Jl. Gajah Mada No. 7 Jakarta Pusat. Di Bandara Soekarno-Hatta, gedung Lion Air terlihat besar dan tampak dominan di Terminal 1.

Menurut majalah Forbes, duo Kirana berada di peringkat 33 dari 50 orang terkaya di Indonesia per 29 November 2017. Kekayaan mereka mencapai 970 juta dolar Amerika.

Sejak 2013, Rusdi Kirana terjun ke dunia politik. Dia memilih Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebagai kendaraan politiknya. Pada 2014, Jokowi menunjuk Rusdi sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Tiga tahun kemudian, ia diangkat sebagai Duta Besar RI untuk Malaysia.

Hingga hari ini, Lion Air masih mendaku diri sebagai maskapai penerbangan berbiaya rendah (Low Cost Carrier) dengan jargon “We Make People Fly.” Maskapai ini tentu punya tempat di hati para pengguna jasa maskapai penerbangan Indonesia.

Tapi pepatah lama “ada harga, ada rupa” memang berlaku di mana-mana, tak terkecuali di dunia penerbangan. Harga tiket murah tentu berbanding lurus dengan kualitas pelayanan dan besarnya risiko yang ditanggung penumpang. Dalam soal ketepatan waktu, misalnya, Lion Air bisa dibilang tidak begitu baik. Lion Air dikenal sebagai maskapai yang armadanya sering delay.

Sumber : Tirto.id