Pelayaran Nasional Indonesia ( PELNI )

Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) adalah maskapai pelayaran nasional Indonesia. Pelni mengoperasikan sejumlah 28 unit kapal penumpang dengan kapasitas seluruhnya 36.913 penumpang dan 4 unit kapal barang.[2]

Kapal-kapal Pelni memiliki rute tetap yang menyinggahi 91 pelabuhan di Indonesia.[2] Tiga unit kapal penumpang (KM Kerinci, KM Willis, dan KFC Jet Liner) berfungsi sebagai sebagai kapal carter atau kapal cadangan bila ada kapal yang sedang didok. Kapal penumpang yang dimiliki terdiri dari 6 jenis: kapasitas 3.000 penumpang, 2.000 penumpang, 1.000 penumpang, 500 penumpang, kapal Ro-Ro, dan 1 kapal feri.

Sejarah

Pelni berawal dari Yayasan Penguasaan Pusat Kapal-Kapal (PEPUSKA) yang didirikan berdasarkan Surat Keputusan Bersama Menteri Perhubungan dan Menteri Pekerjaan Umum tertanggal 5 September 1950. Yayasan PEPUSKA didirikan setelah Pemerintah Belanda menolak permintaan Pemerintah Indonesia untuk mengubah status NV Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) menjadi perseroan terbatas. Sebagai maskapai pelayaran Belanda yang beroperasi di perairan Indonesia, NV KPM juga menolak untuk memakai bendera Indonesia.

Baca Juga : Jadwal Pelni

Dengan modal awal 8 unit kapal, PEPUSKA harus bersaing dengan KPM yang armadanya lebih banyak dan memiliki kontrak-kontrak yang bersifat monopoli.[3] Setelah PEPUSKA dibubarkan pada 28 April 1952, PT Pelni didirikan berdasarkan SK Menteri Perhubungan tanggal 28 Februari 1952 dan 19 April 1952. Presiden direktur Pelni yang pertama bernama Ma’moen Soemadipraja.[3] Pada waktu itu, modal awal Pelni adalah 8 unit kapal yang diwariskan oleh Yayasan PEPUSKA. Kekurangan armada diatasi dengan memesan 45 unit kapal penumpang dari Eropa Barat dengan dana dari Bank Ekspor Impor Indonesia. Hingga kapal-kapal yang dipesan tiba, Pelni mencarter kapal-kapal asing untuk mengisi trayek yang ditinggalkan KPM. Selain itu, Pelni juga menambah jumlah armada dengan kapal-kapal hasil pampasan perang dari Jepang.[3]

Pada tahun 1961, Pelni diubah statusnya dari perseroan menjadi perusahaan negara. Status Pelni kembali diubah dari perusahaan negara menjadi perseroan terbatas pada tahun 1975.[3]

Dua kapal Pelni, KM Rinjani dan KM Kambuna dihibahkan kepada TNI-AL. Penyerahannya dilakukan pada 13 Mei 2005 di Komando Lintas Laut Militer Tanjung Priok. KM Kambuna diganti namanya menjadi KRI Tanjung Nusanive (KRI 973), dan KM Rinjani menjadi KRI Tanjung Fatagar (KRI 974).

Kapal dengan trayek tetap

KM Awu
KM Binaiya
KM Bukit Raya
KM Bukit Siguntang
KM Ciremai
KM Dobonsolo
KM Dorolonda
KM Egon
KM Fudi
KM Ganda Dewata
KM Gunung Dempo
KM Kelimutu
KM Kelud
KM Lawit
KM Labobar
KM Lambelu
KM Leuser
KM Nggapulu
KM Pangrango
KM Sangiang
KM Sinabung
KM Sirimau
KM Tatamailau
KM Tidar
KM Tilongkabila
KM Umsini

Baca Juga : Tiket Pelni

Kapal cadangan dan carter

KM Kerinci (Kaimana)
KFC Jet Liner
KM Willis

Pelabuhan Tujuan

Pelni sebagai penyedia jasa pelayaran perintis memberikan pelayanan di kota-kota besar Indonesia, hingga ke pulau-pulau terpencil di pelosok negeri yang meliputi lebih dari 150 pelabuhan tujuan dari Sabang sampai Merauke.

Kota besar yang dilayani Pelni antara lain

Bengkulu * Medan
Denpasar * Ambon
Bontang * Cirebon
Gorontalo * Jambi
Balikpapan * Jayapura
Kendari * Banjarmasin
Banyuwangi * Kupang
Makassar * Bau-bau
Manokwari * Merauke
Jakarta * Bandar Lampung
Bengkulu * Padang
Berau * Biak
Bima * Palembang
Bandar Lampung * Semarang
Surabaya * Pontianak
Batam * Manado
Pangkalan Bun
Sorong
Jayapura
Raja Ampat
Selain itu Pelni juga singgah di pulau terluar negeri seperti

Natuna
Nias
Morotai
Nunukan
Pelni sekarang juga membuka rute Internasional

Davao
Dili

Sumber : wikipedia.org