Tol Laut Pangkas Biaya Distribusi, Ini Penjelasan Kepala Cabang Pelni Surabaya

SURABAYA – Program tol laut melalui Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya disambut pelaku usaha.

Tol laut adalah program unggulan pemerintahan Joko Widodo – Jusuf Kalla yang bertujuan memangkas biaya tinggi distribusi barang di wilayah barat dan timur.

Pemerintah menyediakan kapal-kapal besar untuk mengangkut barang serta membangun infrastruktur pelabuhan yang memadai. Menurut Presda Simangasing, Kepala Kantor PT Pelni Surabaya, saat ditemui Selasa, minat pengusaha untuk memanfaatkan program tol laut sangat tinggi.

Besarnya minat pengguna kapal tol laut ini, karena biaya yang lebih murah. Ketiga kapal penugasan tol laut mendapat Public Service Obligation (PSO), sehingga tarifnya lebih murah. Dari Tanjung Perak Surabaya, tiga kapal dioperasikan sebagai bagian dari program tol laut.

Ketiga kapal, adalah Kapal Motor (KM) Freedom, KM Mentari Perdana, dan KM Caraka Jaya Niaga III-22. Untuk masing-masing rute, KM Freedom, meliputi Tanjung Perak – Wanci – Namlea – Fak Fak – Kaimana – Timika, pulang – pergi (PP).

Kemudian rute KM Mentari Perdana, memiliki rute dari Pelabuhan Tanjung Perak – Kalabahi- Moa – Saumlaki – Dobo – Merauke (PP). Sedangkan KM Caraka Jaya Niaga III – 22, mendapat penugasan untuk rute dari Pelabuhan Tanjung Perak – Larantuka- Lewoleba – Rote – Sabu –Waingapu (PP).

Presda menyebut, dengan tiga kapal ini, biayanya hanya sekitar Rp 6 juta per kontainer. Sementara dengan kapal swasta bisa mencapai Rp 20 juta hingga Rp 25 juta per kontainer. Adapaun produk yang dikirimkan sebagian besar adalah jenis sembilan bahan makanan pokok (sembako), makanan jadi, dan kebutuhan bahan bangunan.

Masyarakat yang memanfaatkan kapal tol laut ini, tambah Presda harus mengajukan permintaan ke Kementerian Perdagangan.

Setelah mendapat rekomendasi dari Kementerian Perdagangan, PT Pelni akan menerima barang-barang yang diangkut untuk dinaikkan ke tiga kapal sesuai rute.

“Sejak Minggu (16/10/2016) lalu, ketiganya sudah berlayar di tiga rute masing-masing. Nanti akan kembali setelah berlayar 28 hari,” jelas Presda.

Selama sandar di pelabuhan-pelabuhan kecil yang dituju, ketiga kapal tol laut ini hanya menurunkan barang saat keberangkatan (pergi). Sementara untuk kembali ke Tanjung Perak Surabaya (pulang), ada muatan kecil-kecilan, sekitar 10 – 20 persen kapasitas kapal.

“Ada ikan kering, garam, kayu olahan, dan besi tua. Masih belum banyak,” tambah Presda.

Saat ini, PT Pelni cabang Surabaya, hanya mengikuti tugas yang dibebankan dari PT Pelni pusat. Terkait keluhan dispartas harga yang masih tinggi di daerah-daerah yang dituju, Presda menyebutkan itu biaya tinggi didapat dari transportasi lokal di daerah tujuan. “Sementara dari kami tarif sudah jelas, biaya sudah jelas, ketika barang turun, kami juga sudah tidak ada biaya lagi,” jelas Presda.

Di tahun 2017, Presda mengaku PT Pelni Cabang Surabaya, siap menjalankan penugasan yang diberikan. Termasuk adanya rencana penambahan kapal untuk program tol laut.

Sementara itu, karena sedang layar, dermaga untuk kapal tol laut yang berada di dermaga Jamrud Selatan, Pelabuhan Tanjung Perak, dimanfaatkan sebagai tempat sadar kapal roro.

Sumber : Tribunnews.com